Kurban dan Kebangsaan  

Agus Harimurti Yudhoyono dan Annisa Pohan usai melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci. (@AHYS14P)

Oleh: Agus Harimurti Yudhoyono*)

Memasuki usia 40 tahun, alhamdulillah saya memperoleh hadiah terindah dari Allah SWT: perjalanan haji bersama istri tercinta.

Alhamdulillah semua proses berjalan lancar dan mengesankan, terutama saat wukuf di Arafah, tanggal 10 Dzulhijjah lalu. Berada di Padang Arafah, hanya dengan dua lembar kain, bersama jutaan Muslim dan Muslimah dari seluruh dunia, saya seperti melihat kilas balik kehidupan saya dan membuat saya merenung.

Pada waktu yang sama, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha. Di Indonesia, kita lebih akrab dengan istilah Hari Raya Kurban. Idul Adha merupakan momentum historis saat Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk mengorbankan sang buah hati yang telah lama dinantikan kehadirannya, Ismail AS, sebagai ujian ketakwaan dan kepasrahannya kepada Tuhan semesta alam. Karena keteguhan hati dan keimanan Ibrahim AS. beserta putranya Ismail AS, Allah SWT kemudian mengganti penyembelihan dengan seekor domba.

Riwayat kenabian Nabi Ibrahim AS itu tentu familiar bagi kita semua, karena setiap tahun umat Islam sedunia memperingatinya. Kendati demikian, hakikat makna dan nilai-nilai yang terkandung dari ibadah kurban ini selalu relevan dan kontekstual untuk terus menerus direfleksikan sebagai pengingat komitmen moral, utamanya bagi para pemimpin bangsa, untuk senantiasa mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongannya.

Secara umum, sebagaimana sering disampaikan oleh para cendekiawan Muslim (Rahman, 1990; Hidayat, 2010; Madjid, 2004), kurban setidaknya mengandung dua makna dasar.

Pertama, kurban berarti dekat, yang artinya, kurban merupakan praktik ibadah yang mengekspresi ketaatan sekaligus kepasrahan diri seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kedua, kurban juga memiliki makna binatang sembelihan yang dikeluarkan sebagai wujud pengorbanan sebagian rezeki untuk berbagi kebahagiaan dengan para anggota masyarakat yang berhak menerimanya.

Kedua makna kurban tersebut jelas menegaskan bahwa Islam mengajarkan kepada kita agar senantiasa menyeimbangkan antara kesalehan vertikal “hablum minallah” dan juga kesalehan horizontal “hablum minan-nas” Kesalehan vertikal akan kehilangan makna jika tidak diimbangi dengan kesalehan horizontal. Demikian pula sebaliknya, kesalehan horizontal akan terasa kering jika tidak dilandasi oleh kesalehan vertikal.

Dalam konteks kenegaraan, nilai-nilai adiluhung ibadah kurban menjadi pengingat yang sangat efektif bagi para pemimpin dunia untuk senantiasa menjaga keteguhan hati mereka untuk mengutamakan nasib dan kepentingan rakyatnya.

Laiknya Ismail putra Ibrahim AS, kekuasaan hanyalah titipan yang sewaktu-waktu akan diminta dan harus dikembalikan kepada yang Maha Memiliki. Karena itu, saat memegang amanah kepemimpinan, ikhtiar terbaik harus dilakukan guna menghadirkan kemashalatan yang lebih besar.

Semangat kurban juga menyiratkan pesan luhur bagi setiap umat manusia untuk berani mengorbankan, memotong, atau bahkan ‘menyembelih’ setiap nafsu dan sifat-sifat kebinatangan yang tertanam di dalam jiwa setiap insan.

Adagium klasik homo homini lupus atau yang berarti ‘manusia adalah serigala bagi sesamanya’, merupakan penegasan karakter manusia yang apabila tak mampu mengendalikan dirinya, jiwanya akan dipenuhi oleh nafsu keserakahan.

Untuk itu, manusia diminta berlatih untuk berani menyembelih apa-apa yang menjadi kecintaannya, termasuk pangkat dan jabatan.

Dalam konteks kenegaraan, ibadah kurban mengingatkan kepada kita untuk semakin matang dan dewasa di dalam mengelola hasrat, nafsu dan syahwat kekuasaan.

  LAHAN

Semangat dasar perjuangan di medan politik harus senantiasa diorientasikan kepada kepentingan rakyat dan nilai-nilai kebangsaan. Spirit itu selaras dengan apa yang seringkali diajarkan oleh para kiai, ulama dan guru-guru kita, bahwa kebijakan seorang pemimpin harus didasarkan kepada kemaslahatan rakyat yang dia pimpin.

Selain mengajarkan semangat perubahan, ibadah kurban juga mengajarkan kepada kita untuk berbagi kepada sesama, khususnya mereka yang tidak mampu. Ajaran berbagi ini sarat dengan pesan-pesan moral berdimensi sosial, yang relevan untuk mengatasi tren menguatnya karakter individualisme dan apatisme dalam perkembangan masyarakat modern. Momentum kurban ini kembali mengetuk nurani kita untuk membangkitkan empati kolektif dan bergerak untuk mencarikan solusi-solusi alternatif bagi problem sosial kemasyarakatan.

Karena itu, penyembelihan kurban hendaknya tidak hanya menjadi seremoni keagamaan yang dilanjutkan dengan pembagi-bagian daging kurban, tetapi juga menjadi momentum kolektif kita untuk kembali merapatkan barisan guna meningkatkan solidaritas sosial kita untuk ikut turun tangan menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan.

Belum lekang dari memori kita, bagaimana para masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) baru-baru ini dilanda bencana gempa bumi. Ratusan nyawa menjadi korban, ribuan rumah rubuh, infrastruktur publik hancur, dan masyarakat Muslim terpaksa merayakan Hari Raya Kurban di tenda-tenda pengungsian.

Kita harus bergerak bersama untuk bersinergi, saling membantu, dan meringankan beban saudara-saudara kita di sana. Solidaritas dan kolektivitas ini harus terus dijaga, untuk menata hati dan pikiran kita guna ikut menyelesaikan problem-problem struktural bangsa. Tentu semua ini bukan pekerjaan mudah. Karena itu, kita membutuhkan kegigihan dan semangat pantang menyerah untuk menghadapi berbagai persoalan bangsa.

Pesan nilai solidaritas, kegigihan dan sikap pantang menyerah itu pula yang terefleksikan dalam dalam tata cara ibadah Haji, prosesi ibadah yang juga didasarkan pada napak tilas semangat perjuangan keluarga Ibrahim AS dan Siti Hajar. Betapapun pemerintah Saudi berupaya memudahkan jamaah dan banyak jamaah yang gunakan fasilitas Haji Plus, tetap saja setiap jamaah harus berjuang menyelesaikannya, melawan malas, rasa capek, hawa panas, maupun jarak serta situasi yang tidak selalu nyaman.

Ini semua menjadi refleksi berharga bagi kehidupan sehari-hari kita untuk senantiasa bersemangat mengatasi segala tantangan dan cobaan yang menghadang. Kita juga diingatkan untuk terus meluruskan niat dalam berjuang mewujudkan kepemimpinan yang adil untuk rakyat.

Ditilik dari rukun haji, ihrom mengandung makna kesucian dan tercegahnya kemungkaran, kemudian wukuf berarti ketundukan, lalu thawaf merefleksikan makna fokus dan penghambaan, selanjutnya sa’i memuat makna harapan, serta tahallul diartikan sebagai kepasrahan.

Perayaan Idul Adha sejatinya merupakan paket pelajaran berharga bagi kita semua, untuk kembali merefleksikan akan pentingnya nilai-nilai kepatuhan, loyalitas, kepasrahan, pengorbanan, solidaritas, kegigihan, dan pentingnya menjaga mimpi, harapan serta semangat perjuangan.

Dengan berkomitmen untuk merawat dan mendedikasikan diri pada tegaknya nilai-nilai luhur tersebut, kita akan menjadi bangsa yang kuat, sekuat Ibrahim, Hajar dan Ismail saat menghadapi ujian dan pilihan sulit dalam perjalanan kehidupan.

Semangat Idul Adha ini mengajarkan kepada kita sebagai anak bangsa agar senantiasa kuat, matang dan tidak gagap dalam menghadapi berbagai macam tantangan dan turbulensi yang berpotensi mengoyak kewibawaan negara. ***

*)Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI), Jakarta

Refleksi Idul Adha 1439 H dimuat di Harian Republika Jumat, 24 Agustus 2018

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: