Cerita Kebenaran di Balik Tuduhan Ambisius kepada SBY dan AHY

Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (Foto: Cakra AHY)

Sepenggal Kisah Tak Terungkap di Balik Dinding Ruang Diskusi

Oleh: Ferdinand Hutahaean*)

Pertemuan dua tokoh nasional Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
dan Prabowo Subianto pada 24 Juli 2018, dan menghasilkan sikap arah koalisi Partai Demokrat, tampaknya tidak saja berbuah manis namun juga berbuah pahit karena ternyata respons atas pertemuan tersebut juga melahirkan kelompok manusia panik hingga menyerang SBY, Prabowo, dan AHY dengan serangan-serangan yang kotor dan tidak bermoral.

Itulah realita politik kita, bahwa sikap tidak berbanding lurus dengan jabatan di partai maupun di pemerintahan. Banyak yang mengerdilkan diri dengan pernyataan-pernyataan kerdil, nihil substansi tapi surplus dengan caci maki dan pelecehan.

Transformasi AHY dari Prajurit Jadi Politisi

AHY lahir sebagai anak tentara dan kemudian menjadi prajurit tentara pada usianya yang ke-22 tahun dan menjadi putra sulung Presiden RI Ke 6 pada usianya yang ke-26 tahun dengan pangkat letnan satu. Apakah ada yang salah dari AHY terkait garis takdir menjadi anak tentara dan menjadi anak presiden? SBY sang ayah menjadi presiden adalah karena kegigihan dan perjuangan serta berkat darah dan genetik yang mengalir di tubuhnya dari seorang prajurit tentara bernama R Soekotjo. Peran ayah bagi SBY sangat vital dan menjadi penentu dalam karir keprajuritan dan karir politiknya. Sikap tegas dan disiplin dari sang ayah telah menjadikan SBY muda berkarakter pemimpin hingga menjadi pemimpin yang sukses.

Demikian juga dengan AHY, putra sulung SBY yang lebih dulu bertransformasi dalam karirnya dari seorang prajurit menjadi seorang politisi. AHY dengan segala prestasi yang selalu menjadi lulusan terbaik sejak sekolah, hingga militer dan pendidikan di luar militer, tentu akan membuat kagum siapapun yang mengenal AHY. Begitu juga dengan restu dan doa orang tua, sang ayah bernama SBY yang juga Ketua Umum Partai Demokrat dan Presiden Ke 6 RI selama 10 tahun serta Ibunda tercinta Memo Ani telah menjadi nadi kehidupan bagi AHY. Itulah peran orang tua bagi AHY, dengan silsilah dan garis keturunan yang jelas hingga ke trah Majapahit.

Tranformasi AHY yang cepat mengguncang kebuntuan regenerasi kepemimpinan nasional yang selama ini didominasi politisi tua era orde baru. AHY datang memecah kebuntuan itu dan menjadi perhatian. Adakah yang salah dari transformasi AHY tersebut? AHY yang meminta, AHY yang melakukan, sedangkan sang ayah menuntun jalannya. Apa yang salah? Memang itulah seharusnya kewajiban seorang ayah terhadap anaknya. SBY menuntun, memberi restu dan mendoakan, bukan menggendong dan memangku. Tapi menunjukkan jalan sukses sebagai mentor dan sebagai guru.

AHY Harapan Rakyat, Jangan Dikhianati

AHY sang politisi muda yang kemudian melakukan aksi politiknya sejak pilkada Jakarta kemudian terbang keliling nusantara, mengenal Indonesia dan kemudian Indonesia mengenal AHY.

Adakah yang salah ketika kemudian AHY menjadi sosok yang muncul sebagai harapan baru (NEW HOPE) bagi masa depan bangsa ini? Kondisi tanpa harapan saat ini berubah menjadi harapan baru dengan kemunculan AHY. From No Hope, Become New Hope. Itulah AHY, kemunculannya di pentas politik nasional menjadi harapan baru.

  AHY Dengarkan dan Catat Aspirasi Buruh Cilegon

Dari mana harapan itu tergambar? Seluruh lembaga survei dan hasil polling yang dilakukan oleh media massa, semua menempatkan AHY adalah kandidat terkuat sebagai calon wakil presiden.
Itulah harapan rakyat yang tidak boleh dikhianati jika ingin mendapat kepercayaan masyarakat. Itu murni suara rakyat tanpa rekayasa.

Sikap Demokratis SBY, Menguatkan Jalan AHY

Saya salah satu orang yang sering berdiskusi dengan Pak SBY terkait arah politik dan kebijakan politik Demokrat. Tidak pernah satu kali pun SBY menyatakan atau berkata agar AHY menjadi cawapres dan bahkan disosorkan ke capres-capres yang ada sebagaimana info-info yang berdar yang masuk kategori hoaks.

Saya justru berkali-kali mendengar SBY berkata kepada kami, “Kita jangan memaksa AHY menjadi ini itu, atau memaksa berpasangan dengan si A atau si B. Tanya AHY dulu, dia bersedia tidak? AHY kan bukan boneka meski dia anak saya.”

Kalimat ini bukan sekali dua kali keluar dari SBY, tapi berkali-kali karena saat berdiskusi selalu ada yang menginginkan AHY jadi cawapres. Itulah SBY. Dengan anak saja menerapkan demokrasi.

Apa yang saya tuliskan di atas terkait kalimat SBY, bukanlah sebuah rekayasa tapi sebuah fakta yang bisa dikonfrontir kepada siapapun yang terlibat dalam ruang diskusi yang tak pernah kami buka ke publik. Saya meberanikan diri membuka ini tanpa izin Pak SBY, karena saya melihat ketidakbermoralan beberapa politisi yang bicara AHY digendong bapaknya sebagai politisi.

Sungguh tuduhan itu tidak benar, fitnah dan kebohongan. AHY-lah yang memutuskan ke mana dia melangkah dan akan menjadi apa dalam politik ini. Takdir yang membawa AHY dan AHY menjemput takdir. Itulah yang terjadi. Bukan seperti tuduhan para politisi kerdil itu. Demi Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, ini adalah kebenaran.

Medsos yang Membunuh Karakter

Kami paham betul bahwa saat ini kami memasuki fase sebuah perangsesungguhnya. Perang dalam opini dan persepsi. Karena keputusan telah diambil, SBY telah menyatakan mendukung dan berkoalisi dengan Prabowo. Artinya, serangan akan semakin besar apalagi jika ternyata AHY terpilih menjadi calon wakil presiden yang akan mendampingi Prabowo.

Para politisi kerdil dan busuk akan memelihara pasukan medsos dengan Pedoman khusus untuk menyerang sbb :
▪AHY Cawapres, SBY ambisius
▪AHY tidak maju Cawapres, SBY gagal
▪AHY gabung jadi menteri Jokowi, SBY cari aman
▪AHY tidak gabung kabinet Jokowi, SBY usahakan AHY supaya jadi Cawapres
▪SBY harus selalu disalahkan

Itulah yang dihadapi, maka dengam tulisan ini, yang mungkin terlalu panjang, semoga bisa mencerahkan dan membuka kebenaran.

Jakarta, 31 Juli 2018

Tinggalkan Balasan

WhatsApp chat
%d blogger menyukai ini: